Oleh: Husni Idris*
Abstrak∗
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan tahapan-tahapan dalam mengembangkan multimedia pembelajaran yang efektif untuk pembelajaran mata kuliah Teknologi Pendidikan. Multimedia yang dikembangkan memiliki karakteristik sebagai berikut: bersifat interaktif, dan mencakup berbagai komponen media yaitu teks, gambar, animasi, suara, dan video, ditinjau dari aspek pembelajaran, materi, dan media, dan jumlah persentase siswa yang mencapai ketuntasan belajar setelah menggunakan multimedia pembelajaran ini.
Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan (research and development). Pengembangan multimedia ini dilakukan melalui lima tahapan, yaitu analisis, desain, produksi, uji coba, dan distribusi. Tahap analisis meliputi analisis tujuan pembuatan dan bentuk pembuatan produk. Tahap desain meliputi pembuatan prototipe, storyboard, dan bahan-bahan yang diperlukan.Tahap produksi meliputi pemasukan semua bahan-bahan yang ada, sinkronisasi dan menguji coba jalannya program. Tahap uji coba terdiri atas uji kelayakan terbatas oleh ahli materi dan ahli media, dan uji lapangan yang meliputi: preliminary field testing, main field testing, dan operational field testing. Tahap distribusi yaitu menyebarluaskan produk yang sudah direvisi ke pengguna. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi, kuesioner dan tes, dan dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil uji coba digunakan untuk memperbaiki multimedia berbasis komputer hasil pengembangan.
Kata kunci:
Multimedia, pembelajaran berbantuan komputer, teknologi pendidikan
Pendahuluan
Perkembangan ilmu dan teknologi merupakan salah satu produksi dari manusia yang terdidik, dan pada gilirannya manusia-manusia itu perlu lebih mendalami dan mampu mengambil manfaat—dan bukan menjadi korban—dari perkembangan ilmu dan teknologi sendiri. Mendalami serta mengambil manfaat dari perkembangan ilmu dan teknologi tidak mungkin dilakukan oleh semua manusia dengan kadar waktu yang sama. Keterbatasan manusia dan waktu menuntut adanya spesialisasi yang semakin mendalam.
Pembelajaran dewasa ini menghadapi dua tantangan, tantangan yang pertama datang dari
adanya perubahan persepsi tentang belajar itu sendiri dan tantangan yang kedua datang dari adanya
teknologi informasi dan telekomunikasi yang memperlihatkan perkembangan yang luar biasa.
Konstruktivisme pada dasarnya telah menjawab tantangan yang pertama dengan meredefinisi belajar
sebagai proses konstruktif di mana informasi diubah menjadi pengetahuan melalui proses interpretasi,
korespondensi, representasi, dan elaborasi. Sementara itu, kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi yang begitu pesat yang menawarkan berbagai kemudahan-kemudahan baru dalam pembelajaran memungkinkan terjadinya pergeseran orientasi belajar dari outside-guided menjadi selfguided dan dari knowledge-as-possession menjadi knowledge-as-construction. Lebih dari itu, teknologi ini ternyata turut pula memainkan peran penting dalam memperbarui konsepsi pembenaran yang semula fokus pada pembelajaran sebagai semata-mata suatu penyajian berbagai pengetahuan menjadi pembelajaran sebagai suatu bimbingan agar mampu melakukan eksplorasi sosial-budaya yang kaya akan pengetahuan.
Permasalahan yang sering muncul berkenaan dengan penggunaan media pembelajaran,
yakni ketersediaan dan pemanfaatan. Ketersediaan media, masih sangat kurang sehingga para
pengajar menggunakan media secara minimal. Media yang sering digunakan adalah media cetak
(diktat, modul, hand out, buku teks, majalah, surat kabar, dan sebagainya), dan didukung dengan alat
bantu sederhana yang masih tetap digunakan seperti papan tulis/white board dan kapur/spidol.
Sedangkan media audio dan visual (kaset audio, siaran TV/Radio, overhead transparency,
video/film,), dan media elektronik (komputer, internet) masih belum secara intensif dimanfaatkan. Masalah kedua, pemanfaatan media. Media cetak merupakan media yang paling sering digunakan oleh pengajar, karena mudah untuk dikembangkan maupun dicari dari berbagai sumber. Namun, kebanyakan media cetak sangat tergantung pada verbal symbols (kata-kata) yang bersifat sangat abstrak, sehingga menuntut kemampuan abstraksi yang sangat tinggi dari pebelajar, hal inilah yang dapat menyulitkan mereka. Karena itu dalam pemanfaatan media ini, diperlukan kreativitas pengajar juga pertimbangan instruksional yang matang dari pengajar. Kenyataan yang sering terlihat adalah, banyak pengajar menggunakan media pembelajaran “seadanya” tanpa pertimbangan pembelajaran (instructional consideration), dan ada pula pengajar yang menggunakan media canggih walaupun sesungguhnya tidak diperlukan dalam pembelajaran.
Teknologi Pendidikan (TP)
Teknologi Pendidikan atau Teknologi pembelajaran (TP) diterjemahkan dari Educational
Technology kadang-kadang disamakan dengan Instructional Technology atau Performance
Technology. Meskipun ketiga istilah ini mempunyai konotasi yang berlain-lainan. TP sebagai bidang
studi muncul sebagai embrio, baru di sekitar 1960-an, sebagai hasil sinergi dua bidang yang sedang
tumbuh saat itu, yaitu pendidikan audio visual (audiovisual education) dan pembelajaran terprogram
(programmed learning). Meskipun demikian, istilah TP itu sendiri lambat mendapatkan
“popularitas”. Menurut Plomp dan Pals (1989)1, TP hampir-hampir tidak dikenal di Eropa, kecuali
Inggris. Demikian halnya yang terjadi di Jepang. Bahkan menurut Saettler (1990)2 tidak banyak pakar
dan praktisi di Amerika Serikat dan Inggris yang menyebut diri mereka sendiri “Educational
Technologists”, meskipun pekerjaan mereka sehari-hari berurusan dengan teknologi pendidikan.
Pada awalnya, pengertian “teknologi” dana TP mempunyai konotasi umum, dan bahkan
cenderung dihubungkan dengan ilmu rekayasa (engineering). Budiningsih, menyebutkan seorang
pionir TP yang terkenal Finn, mencoba menghubungkan kata “teknologi” dengan “pendidikan”
dengan mengatakan bahwa masyarakat (di Amerika Utara, saat itu) akan banyak berubah karena
adanya kemajuan teknologi, hal ini lambat laun akan mempengaruhi juga dunia pendidikan.3 Jelas sekali, kata “teknologi” di sini adalah sesuatu yang terpisah sama sekali dari konsep “pendidikan”, dan jelas pula tidak sama dengan “teknologi” dalam istilah “Teknologi Pendidikan” seperti yang dikenal saat ini.
Saat ini, pengertian TP telah berkembang jauh dari definisi awalnya.
Kata “teknologi’ dalam TP memang tidak mudah didefinisikan. Teknologi bukanlah sekedar
Pengembangan
• Teknologi Cetak
• Teknologi
Audiovisual
• Teknologi Berbasis
Komputer
• Teknologi Terpadu
Desain Pemanfaatan
• Desain Sistem • Pemanfaatan Media
Instruksional • Difusi Inovasi
• Desain Pesan • Implementasi dan
• Strategi Instruksional Instutionalisasi
• Karakteristik Pebelajar • Kebijakan dan Regulasi
TEORI
Penilaian Pengelolaan
• Analisis Masalah • Manajemen Proyek
• Pengukuran Acuan • Manajemen Sumber
Patokan Manajemen Sistem
• Evaluasi Formatif Penyampaian
• Evaluasi Sumatif • Manajemen Informasi
Gambar 1.
Kawasan Teknologi Pembelajaran
(Diadaptasi dari Seels dan Richey, 1994)
mesin dan manusia. Teknologi adalah satu kesatuan yang kompleks antara manusia, mesin, idea,
prosedur dan manajemen. Teknologi adalah suatu kesatuan antara “hardware”, “software”, dan
“brainware”, yang jika berjalan sendiri-sendiri tidak akan menjadi teknologi. Kesulitan menjelaskan
makna teknologi ini akhirnya berdampak pada kesulitan menjelaskan definisi TP itu sendiri. Definisi yang relatif baru (Seels dan Richey, 1994) sebenarnya cukup sederhana dan mudah dimengerti, yang berbunyi sebagai berikut (TP dianggap sama dengan Teknologi Instruksional).
“Instructional technology is the theory and practice of design, development utilization, management and evolution of processes and resources for learning”.
Definisi yang sederhana ini jika dijabarkan lebih lanjut akan melahirkan kompleksitas tersendiri. Gambar yang sudah ditampilkan sebelumnya (lihat: Gambar 1) merupakan gambaran “menyeluruh” yang meliputi berbagai ranah (domain) yang tersirat dalam defenisi di atas.
Multimedia Pembelajaran Berbantuan Komputer (PBK)
Perkembangan komputer saat ini, telah mengubah konsep multimedia. Pada era 60-an,
akronim kata multimedia dalam taksonomi pendidikan bukan istilah asing. Pada saat itu, multimedia
diartikan sebagai kumpulan/gabungan dari berbagai peralatan media yang berbeda untuk digunakan
presentasi. Pada tahun 90-an, multimedia dimaknai sebagai transmitting text, audio and graphics in
real time. Makna yang lebih luas, menurut Gayestik4 (Sunaryo Soenarto, 2005) multimedia sebagai
suatu sistem komunikasi interaktif berbasis komputer yang mampu menciptakan, menyimpan,
menyajikan, dan mengakses kembali informasi berupa teks, grafik, suara, video atau animasi. Dan
menurut Phillips 5 (Sunaryo Soenarto, 2005), multimedia interaktif mempunyai potensi untuk
digunakan dalam pembelajaran dengan berbagai strategi pembelajaran, khususnya sebagai alat bantu untuk tutorial interaktif dan pedoman elektronik.
Dalam kaitan membantu pembelajaran pebelajar, komputer dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal, yakni dengan penemuan dan pemanfaatan mesin mengajar (teaching machine) untuk menerapkan pengajaran berprograma pada tahun 1950-1960-an hingga kemudian kemajuan bidang teknik komputer mampu menerjemahkan aplikasi ke dalam program CAL (Computer Assisted Learning), CBL (Computer Based Learning), CAI (Computer Assisted Instruction), CBT (Computer Based Training), dan sebagainya. Semua program tersebut bertujuan sebagai bantuan dalam pembelajaran. Criswell mengemukakan:
The term computer-based Instruction (CBI) refers to any use of a computer to a present instructional material, provide for active participation of the student and respond to student action. Very simply, the goal of CBI is to teach6.
Menurut Herman D Surjono (1999), istilah CAI (Computer-Assisted Instruction) umumnya
menunjuk pada semua software pendidikan yang diakses melalui komputer di mana anak didik dapat
berinteraksi dengannya. Sistem komputer menyajikan serangkaian program pengajaran kepada anak
didik baik berupa informasi maupun latihan soal-soal untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu dan
pebelajar melakukan aktivitas belajar dengan cara berinteraksi dengan sistem komputer. Materi pelajaran dapat disajikan program CAI melalui berbagai metode seperti: drill and practice, tutorial, simulasi, permainan, problem-solving, dan lain sebagainya. Menurut Nasution, CAI atau pengajaran dengan bantuan komputer adalah pengajaran yang menggunakan komputer sebagai alat bantu 7 . Komputer itu dapat dilengkapi sehingga memperluas fungsinya dan dapat digunakan sebagai mesin belajar atau teaching machine.
Mengenai multimedia berbasis komputer, multimedia bisa berupa kombinasi antara teks,
grafik, animasi, suara, dan video. Penggabungan ini merupakan suatu kesatuan yang secara bersama-
sama menampilkan informasi, pesan atau isi pelajaran. Konsep penggabungan ini dengan sendirinya
memerlukan beberapa jenis peralatan perangkat keras yang masing-masing tetap menjalankan fungsi
utamanya sebagai mana biasanya, dan komputer merupakan pengendali semua peralatan itu. Jenis
peralatan ini adalah komputer, video kamera, video cassette recorder (VCR), overhead projector,
multivision (atau sejenisnya), CD dan CD player, yang sebelumnya merupakan peralatan tambahan
(external peripheral) komputer, sekarang sudah menjadi bagian unit komputer tertentu. Kesemua
peralatan itu haruslah kompak dan bekerja sama dalam penyampaian informasi kepada pemakai.
Pentingnya Multimedia Pembelajaran
Multimedia mencakup berbagai media yang terintegrasi menjadi satu. Setiap komponen
media dapat merangsang satu atau lebih indra manusia. Teori Koehnert mengatakan bahwa semakin
banyak indra yang terlibat dalam proses belajar, maka proses belajar tersebut akan menjadi lebih
efektif. Secara tegas teori ini menyarankan penggunaan lebih dari satu indera manusia. Oleh karena
itu, pemanfaatan multimedia dalam pembelajaran dapat diharapkan meningkatkan hasil belajar.
Pernyataan di atas berkaitan dengan pendapat Dale yang menyatakan bahwa pemerolehan hasil belajar melalui indra pandang berkisar 75%, melalui indra dengar sekitar 13%, dan melalui indra lainnya sekitar 12%. Hal senada ditegaskan oleh Baugh (1986) yang menyatakan bahwa kurang lebih 90% hasil belajar seseorang diperoleh melalui indra pandang, 5% diperoleh melalui indra dengar, dan 5% lagi diperoleh melalui indra lainnya.8
Selain itu multimedia juga fleksibel dalam menyesuaikan dengan kecepatan belajar seseorang. Seorang pebelajar yang memiliki kecepatan belajar lebih tinggi dapat lebih cepat menyelesaikan kegiatan belajarnya, sedangkan pebelajar dengan kecepatan belajar lambat dapat menyelesaikan aktivitas belajarnya sesuai dengan kecepatannya masing-masing. Hal ini sangat berbeda dengan pembelajaran di kelas konvensional, dimana setiap pebelajar dipaksa belajar dengan kecepatan yang ditentukan oleh guru. Pebelajar yang mempunyai kecepatan belajar tinggi dapat merasa bosan, sebaliknya pebelajar dengan kecepatan belajar rendah merasa pembelajaran terlalu cepat untuk diikuti.
Dengan multimedia, pembelajaran dapat dilakukan dengan lebih fleksibel berkaitan dengan waktu dan tempat. Pebelajar tidak dituntut untuk hadir pada tempat dan waktu tertentu untuk mengikuti kegiatan pembelajaran, karena mereka dapat mempelajari materi pelajaran melalui multimedia kapan saja dan di mana saja selama terdapat multimedia.
Pembelajaran dengan menggunakan multimedia juga memberikan beberapa keuntungan.
Townsend & Townsend 9 menyatakan bahwa multimedia memiliki enam keuntungan, yaitu : (1)
multimedia masuk akal, sehingga dapat meningkatkan pembelajaran; (2) multimedia meningkatkan
dan menvalidasi ekspresi diri dengan membiarkan pebelajar untuk memutuskan sendiri; (3)
multimedia membuat pebelajar menjadi “pemilik” sehingga mereka bisa menciptakan apa yang
hendak mereka pelajari; (4) multimedia menciptakan suasana yang aktif, atmosfer pembelajaran,
sehingga pebelajar bisa terlibat langsung; (5) multimedia dapat sebagai katalisator yang
menjembatani komunikasi pebelajar dan dengan instruktur; dan (6) pemakaian multimedia sudah
tidak asing lagi, karena telah digunakan dalam kehidupan sehari seperti di bank, videogame, dan
televisi..
Reinhardt juga mengidentifikasi cara bagaimana multimedia dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran10. Reinhardt menjelaskan secara lebih rinci bahwa: (1) multimedia dapat meningkatkan
rasa ingin-tahu, kreativitas, dan kerjasama kelompok; (2) multimedia dapat mengubah peran guru
tradisional menjadi dari guru modern; (3) menggunakan multimedia akan dapat mengingatkan
kembali model pembelajaran; (4) multimedia dapat meningkatkan akses informasi; (5) multimedia dapat menyediakan bahan yang lebih untuk bisa mengarah kepada “media overload"; dan (6) multimedia kita tidak lagi terkungkung dalam kelas, tapi bisa melangkah lebih maju.
Metode Penelitian
Pengembangan multimedia pembelajaran berbantuan komputer mata kuliah teknologi pendidikan ini, dikembangkan berdasarkan model penelitian dan pengembangan, secara garis besar meliputi empat tahap, yaitu:
1. Pendahuluan, yakni studi pustaka yang terdiri mempeljari teori dan hasil penelitian terdaulu
dilanjutkan dengan studi lapangan yang terdiri dari profil sasaran penelitian, kekuatan dan
kelemahan.
2. Pengembangan, terdiri dari tujuan, kemampuan peneliti, partisipan, prosedur, dan uji kelayakan
terbatas. Kemudian dilanjutkan dengan desain hipotetik.
3. Uji lapangan, yang terdiri tiga tahap yakni prelimanary field testing, main field testing dan
operational field testing, serta diakhiri dengan desain final sebelum menuju ke tahap diseminasi.
4. Desiminasi, setelah uji lapangan dilanjutkan dengan sosialisasi dan diseminasi.
Teknik analisis data dalam penelitian ini dianalisis dengan statistik deskriptif dengan teknik persentase dan kategorisasi yang dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Alat pengumpul data yang berupa kuesioner, menggunakan skala Likert.11 Tiap butir dibagi lima
skala, yaitu sangat baik, baik, cukup, kurang baik, dan sangat kurang baik. Setiap pernyataan
diberi bobot yakni: sangat baik (5), baik (4), cukup baik (3), kurang baik (2), dan sangat kurang baik (1).
Tabel 1
Konversi Skor ke Nilai pada Skala 5
Interval Skor Nilai Kategori
Sangat
X > X i + 1, 80 SBi A Baik
B Baik
X i + 0, 60 SBi < X ≤ X i + 1, 80 SBi X i - 0, 60 SBi < X ≤ X i + 0, 60 SBi X i - 1, 80 SBi < X ≤ X i - 0, 60 SBi X ≤ X i - 1, 80 SBi Keterangan : C Cukup Baik D Kurang Baik E Sangat Kurang Baik X i = Rerata ideal = ½ (skor maksimal ideal + skor minimal ideal) SBi = Simpangan baku ideal = 1/6 (skor maksimal ideal - skor minimal ideal) X = Skor aktual 2. Hasil pre-test dan post-test yang dilakukan pada siswa, dihitung nilai rata-ratanya, kemudian untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan nilai rata-rata sebelum dan sesudah belajar menggunakan software multimedia tersebut. Hasil Penelitian dan Pengembangan Tabel 2 Kualitas Produk Multimedia Hasil Validasi Ahli Materi No Aspek Penilaian Kategori 1. Pembelajaran 3,48 Baik 2. Materi/isi 3,80 Baik Total 3,63 Baik Proses pengembangan multimedia pembelajaran ini secara garis besar melalui beberapa tahap, yaitu: desain, produksi, dan evaluasi. Hasil validasi produk oleh ahli dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan evaluasi ahli materi di atas, dapat disimpulkan bahwa instrumen evaluasi ini layak digunakan untuk penelitian. Volume 5 Januari - Juni 2008 IQRA’ 54 Husni Idris Skor yang diberikan oleh ahli media dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Kualitas Produk Multimedia Hasil Validasi Ahli Media No Aspek Penilaian Kategori 1. Tampilan 3,61 Baik 2. Penyajian 3,86 Baik 3 Pemograman 3,70 Baik Total 3,67 Baik Dengan meninjau penilaian Ahli Materi mengenai program yang dikembangkan, dapat disimpulkan bahwa produk ini layak diujicobakan. Hasil uji coba produk kepada siswa ditunjukkan pada Tabel 4 Tabel 4 Kualitas Produk Multimedia Hasil Uji Coba Tahap Uji Coba Prelimi-nari Field Testing Main Filed Testing Aspek Penilaian Pembelajaran Materi Media Pembelajaran Materi Media Tabel 5 Rerata Skor Kategori 4,03 Baik 3,93 Baik 3,86 Baik 4,08 Baik 4,03 Baik 4,06 Baik Hasil Skor Pre-test dan Post-test pada Operational Field Testing Pemb Skor Nilai Skor Nilai elajar Pre- Pre- Post- Post- test Test test Test 1. 5 25 16 80 2. 9 45 16 80 3. 7 35 16 80 4. 6 30 15 75 5. 4 20 12 60 6. 5 25 16 80 7. 8 40 16 80 8. 10 50 18 90 9. 12 60 16 80 Volume 5 Januari - Juni 2008 Tuntas/tdk tuntas TUNTAS TUNTAS TUNTAS TUNTAS TDK TUNTAS TUNTAS TUNTAS TUNTAS TUNTAS IQRA’ 55 Husni Idris 10. 7 11. 11 12. 10 13. 10 14. 9 15. 7 16. 6 17. 4 18. 5 19. 8 20. 10 RATA- RATA 7,65 35 15 75 55 18 90 50 16 80 50 18 90 45 10 50 35 16 80 30 16 80 20 12 60 25 16 80 40 15 75 50 16 80 38,2 15,4 77,2 5 5 5 TUNTAS TUNTAS TUNTAS TUNTAS TDK TUNTAS TUNTAS TUNTAS TDK TUNTAS TUNTAS TUNTAS TUNTAS TUNTAS = 17 PEMBE- LAJAR Pebelajar yang tuntas sebanyak 17 orang = 15/20X 100% = 72,25% dalam tabel skala lima termasuk kategori ”Baik” Keterangan: Nilai maksimal = 100, Nilai Ketuntasan Belajar “≥ 70 Hasil uji coba preliminari field testing menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran termasuk dalam kategori baik, kualitas materi termasuk dalam kategori baik, dan kualitas media dengan multimedia pembelajaran termasuk dalam kategori sangat baik, dan secara keseluruhan termasuk kategori baik dengan skor rata-rata 3,93. Hasil uji coba l main filed testing menunjukkan kesimpulan akhir bahwa aspek pembelajaran, aspek materi, dan aspek media termasuk kategori baik dengan rata-rata skor secara keseluruahn 4,06 dan termasuk kategori baik. Proses revisi produk dilakukan berdasarkan masukan dari para ahli dan pebelajar Dari data yang disajikan pada tabel 5 di atas, dapat dijelaskan bahwa jumlah pebelajar yang mencapai ketuntasan belajar (nilai minimal 70) setelah pebelajar menggunakan multimedia pembelajaran berbantuan komputer, sebanyak 17 pebelajar dari 20 pebelajar yang mengikuti tes tersebut, sehingga sebesar 72,25% pebelajar yang dinyatakan mencapai ketuntasan belajar pada materi tersebut. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa dampak penggunaan multimedia pembelajaran berbantuan komputer terhadap peningkatan hasil belajar pebelajar dalam materi teknologi pendidikan masuk kategori “baik” dengan melihat jumlah persentase pebelajar yang mencapai ketuntasan belajar sebesar 72,25%. Penutup Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat dikemukakan beberapa kesimpulan antara lain: a. Pengembangan multimedia berbantuan komputer ini, berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil yakni: pada preliminary field testing yang diujicobakan terhadap 3 orang pebelajar Volume 5 Januari - Juni 2008 IQRA’ 56 Husni Idris termasuk dalam kategori “Baik” pada aspek pembelajaran, aspek materi dan aspek media. Pada main field testing yang diujicobakan terhadap 10 orang pebelajar termasuk dalam kategori “Baik”, pada aspek pembelajaran, aspek materi dan aspek media. Demikian pula pada Operational Field Testing yang diujicobakan terhadap 20 orang pebelajar termasuk dalam kategori “Baik”. b. Kualitas multimedia pembelajaran berbantuan komputer hasil pengembangan ini termasuk pada kategori “Baik”, yang meliputi aspek pembelajaran, aspek materi, dan aspek media. Secara keseluruhan kualitas multimedia ini termasuk dalam kategori ”Baik”. c. Produk multimedia pembelajaran berbantuan komputer hasil pengembangan ini terbukti meningkatkan prestasi belajar. Hal ini terlihat rerata skor pre-test dan post-test, yang menujukkan bahwa hasil post-test lebih besar dari hasil pre-test. Pada pre-test menunjukkan skor 38,25 % , sedangkan pada post-test menunjukkan skor 77,25 %. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan yakni 39 %, dan berdasarkan nilai ketuntasan > 70, maka nilai 77,25 % termasuk pada
kategori “Baik”
Daftar Pustaka
Ade Koesnandar. 2004. Unsur-unsur pokok dalam penilaian kualitas program multimedia.
(Powerpoint). Jakarta: Pustekkom.
AECT. 1997. Educational technology: definition and glossary of terms, Vol. 1. Washington DC:
AECT.
Azhar Arsyad. 2006. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Borg, W.R., & Gall, M.D. 1983. Educational research: An introduction (4th ed.). New York:
Longman.
Criswell, E. L. 1989. The design of computer-based instruction. New York: Macmillan Publishing
Company.
Heinich, R. (et al). 1996. Instructional media and technologies for learning (5th ed.), Englewood
Cliffs, New Jersey: A Simon & Schuster Company.
Kennedy, G., Petrovic, T., & Keppell, M. 1998. The development of multimedia evaluation criteria
and a program of evaluation for computer aided learning. ASCILITE’98.
Kemp, J. E. & Dayton, D. K. 1985. Planning and producing instructional media (2nd ed.), New York:
Harper & Row Publishers Cambridge.
Mukminan, 2005. Teori pembelajaran. Handout mata kuliah Teori Pembelajaran Program
Pascasarjana UNY Prodi Teknologi Pembelajaran.
Nasution, S. 1987. Teknologi Pendidikan. Bandung: Jemmars.
Seels, B.B. & Richey, R.C. 1994. Instructional technology: the definition and domains of the field.
(Terjemahan Yusuf Hadi Miarso, Dewi S Prawiradilaga & Raphael Rahardjo. Ikatan Profesi
Teknologi Pendidikan Indonesia,Unit Percetakan Universitas Negeri Jakarta).
Snyder, I.T. 1996. Multimedia and Learning: Where’s the Connection? Developments in Business
Simulation and Experiental Exercise, Volume 23, hlm. 179. Diakses pada http://sbaweb.way
ne.edu.
Sukarjo. 2006. Kumpulan materi evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Jurusan Teknologi
Pembelajaran, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Yogyakarta.
Sunaryo Soenarto. 2005. Model pembelajaran berbasis komputer. Makalah disajikan dalam Pelatihan
Model Pembelajaran PBK, tanggal 26 - 28 November 2005, di P3AI Universitas Negeri
Yogyakarta.
Yusuf Hadi Miarso. 2004. Menyemai benih teknologi pendidikan. Jakarta: Fajar Interpratama Offset
Kerja sama dengan Pustekkom Diknas.
Selamat Datang di blog Widya Agustina PTI_UM'09
Tidak ada komentar:
Posting Komentar